Sedekah
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahi Rabbil’alamin. Segala puji bagi Allah ‘Azza wa Jalla, Tuhan semesta alam raya ini. Dengan mengucap nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maha pengasih lagi maha penyayang.
Dalam rangka pengembangan pembangunan Masjid Assalam di kawasan perumahan Tamansari Bukit Mutiara atau lebih di kenal dengan nama Komplek Wika Balikpapan, saya mencoba membuat website ini sebagai sarana wadah dakwah dan media amalan bagi yang akan bersedekah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sedekah berasal dari kata shadaqa yang berarti benar. Orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar pengakuan imannya. Menurut terminologi syariat, pengertian sedekah sama dengan pengertian infaq, termasuk juga hukum dan ketentuan-ketentuannya. Hanya saja, jika infaq berkaitan dengan materi, sedekah memiliki arti lebih luas, menyangkut hal yang bersifat nonmateril. Adapun shadaqah maknanya lebih luas dari zakat dan infak. Shadaqah dapat bermakna infak, zakat dan kebaikan non materi. Dalam hadist riwayat Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi jawaban kepada orang-orang miskin yang cemburu terhadap orang kaya yang banyak bershadaqah dengan hartanya, beliau bersabda:
“Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap takbir shadaqah, setiap tahmid shadaqah, setiap tahlil shadaqah, amar ma’ruf shadaqah, nahi munkar shadaqah dan menyalurkan syahwatnya pada istri juga shadaqah”.
Shadaqah adalah ungkapan kejujuran (shidiq) iman seseorang. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menggabungkan antara orang yang memberi harta dijalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan orang yang membenarkan adanya pahala yang terbaik. Antara yang bakhil dengan orang yang mendustakan. Disebutkan dalam surat Surat Al-Lail:
Bismillahirrahmanirrahiim
Sesunguhnya usaha kamu memang berbeda-beda
Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa
dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga)
maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah
Dan adapun orang)orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,
serta mendustakan pahala yang terbaik
maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar
Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.
Surat ini merupakan surat-surat pertama Makiyyah, mengandung dua perumpamaan yang memberikan suatu isyarah akan sikap Islam terhadap harta dan orang kaya; dan menjelaskan pula contoh akhlaq yang diperintahkan Islam dan yang akan mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Golongan pertama adalah golongan yang memberikan hartanya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaqwa dan membenarkan adanya pahala terbaik (syurga). Terhadap golongan ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memujinya dan menyiapkan baginya jalan yang mudah.
Jadi memberi adalah salah satu sifat yang disejajarkan dengan taqwa dan membenarkan kalimat terbaik. Quran memutlakan sifatnya dengan memberi dan tidak menyatakan apa yang diberikan, berapa yang diberikan dan macam apa yang diberikan, karena maksud utamanya adalah jiwanya itu adalah jiwa yang dermawan, mulia dan pemberi, bukannya jiwa yang hina dan tidak mau memberi.
Jiwa pemberi adalah jiwa yang bermanfaat dan jiwa yang baik, yang tabiatnya senantiasa mau berlaku baik dan memberikan kebaikan kepada orang lain. Ia memberikan yang terbaik, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain, sehingga ia menyerupai sebuah sungai yang dimanfaatkan oleh manusia dengan meminumnya dan untuk diberikan kepada hewan ternak dan tanaman. Demikian pula dengan orang yang penuh keberkatan dimanfaatkan dimanapun ia berada, sehingga sebagai pembalasannya terhadap jiwanya yang mudah memberi itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memudahkan masuk ke dalam syurga.
Sebagai tandingan golongan ini, golongan yang dicela Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memudahkannya masuk ke dalam neraka, karena ia sifatnya bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan adanya pahala terbaik (syurga). Inilah golongan yang tercela karena kekikirannya terhadap hartanya dan menganggap dirinya cukup, tidak memerlukan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pertolongan manusia serta membohongkan apa yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu akibat yang baik bagi orang-orang yang benar imannya.
Maka, Allah memperingatkan dengan neraka yang menyala-nyala,
Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka,
Yang mendustkan kebenaran dan berpaling dari iman.
Dan kelak akak dijauhkan orang yang bertaqwa dari neraka itu.
Yang menafkahkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkannya,
Padahal tidak seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya.
Tetapi dia memberikan itu itu semata-mata karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi.
Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.
Usaha manusia itu berlainan, karena itu balasannya berlainan pula; orang yang suka berderma, bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang baik dimudahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala baginya melakukan kebaikan yang membawa kepada kebahagiaan di akhirat, tetapi orang yang dimudahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala baginya melakukan kejahatan-kejahatan yang membawa kepada kesengsaraan di akhirat, harta benda tidak akan akan memberi manfaat kepadanya; orang yang bakhil merasa dirinya cukup dan mendustakan adanya pahala yang baik.
Surat Al-Lail menerangkan bahwa amalan-amalan yang dikerjakan dengan tulus ikhlas semata-mata mencari keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala itulah yang membawa kebahagiaan di akhirat kelak.
wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Wallahu a’lam bishshawab
Sumber (copy paste) tulisan:
1. http://id.wikipedia.org/wiki/Surah_Al-Lail
2. http://almanaar.wordpress.com/2007/11/07/surat-al-lail/
3. ttp://amany.org/tanya-jawab/40-ziswaf/66-apa-perbedaan-beda-zakat-infaq-dan-sadaqah-.html










test
Leave your response!